![]() |
| Foto: wordpress.com |
Tentu saja keberadaan pendidikan inilah menjadi pendorong kemajuan bangsa, meski demikian ada berbagai masalah pendidikan yang dialami pebedaan moncolok kualitas daerah jawa dan timur dari segi kualitas guru, murid dan lulusan universitas. Perbendaan mencolok antara daerah perkotaan kualitas gurunya memadai dengan pedesaan dari kualifikasi guru berkualitas dan tidak dan perbedaan antara daerah maju dengan daerah tertinggal lebih mencengangkang lagi karena guru di perkotaan sudah sedikit mapan sementara daerah tertinggal baru mau belajar menjadi guru yang baik belum bicara kualitas. Di daerah-daerah perkotaan akses belajar banyak, ruang kelas tersedia dengan baik, fasilitas buku juga demikian sebaliknya di daerah tertinggal belaku hal yang berlawanan masih jauh dari harapan jika dikaitkan standar kompotensi kurikulum pendidikan nasional 2013.
Hasil riset yang dilakukan di daerah-daerah tertinggal seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTT, NTB memperlihatkan kualitas pendidikan memang belum bisa diperbandingkan dengan perkotaan. Ada kesalahan besar jika kurikulum pendidikan harus berlaku di daerah-daerah tertinggal karena kualitas yang dimiliki guru masih jauh dari harapan apalagi siswa yang diajarkan pelajaran tertentu diluar kompotensi guru. Kurikulum dengan penguatan standar kompotensi dan indikator capaian pendidikan belum bisa dikomsumsi dengan baik di daerah tertinggal alasannya sederhana, ketersediaan guru dengan jumlah siswa masih berbanding terbalik, fasilitas sekolah baik sarana maupun prasarana belum memadai, fasilitas sekolah hanya tersedia di pusa-pusat pemerintahan, guru masih banyak yang lulusan SMA, guru juga masih banyak yang belum mengikuti standar kompotensi, pelatihan dan kegiatan peningkatan kapasitas guru masih sangat terbatas di daerah tertinggal.
Fasilitas pendidikan yang tersedia baik bangku, ruangan memadai masih sangat minim, siswa masih harus berebutan bangku sebelum belajar karena keterbatasan bangku sekolah. Jika harus belajar maksimal maka urusan perbangkuan harusnya sudah selesai. Sarana pendidikan baik perpustakaan tidak memadai bahkan buku-buku yang ada tidak dipergunakan secara baik, dengan menjad pembaca. Kondisi sarana pendidikan olahraga terbatas, masih belum tersedia sehingga menyulitkan guru dalam hal praktikum pembelajaran olahraga yang membutuhkan sarana khusus.
Selain karena sarana pendidikan yang sifatnya ternbatas sekolah-sekolah yang ada di daerah tertinggal masih menunmpuk diperkotaan dengan jumlah yang masih terbatas membuat siswa di polosok desa-desa tidak bisa ikut terlibat dalam proses pendidikan karena jarak sekolah yang jauh menyulitkan siswa ikut pendidikan. Sekolah yang jauh dengan kondisi jalan yang rusak karena tidak ada pembangunan infrastruktur memadai membuat anak-anak pedesaan lebih memilih ikut menjadi penggarap sawah dari pada ikut pendidikan. Anak-anak yang bisa sekolah khususnya tingkatan SLTA hanya bisa dilaksanakan oleh anak pejabat atau sekitaran perkotaan, kondsi real ini membuat pendidikan menjadi sangat mahal bagi anak petani dan murah bagi anak pejabat serta dekat akses kota.
Rasio guru dan siswa masih sangat jauh, guru bisa mengajar siswa,30-50 membuat proses pendidikan tidak berjalan maksimal sehingga seorang guru melaksanakan proses mengajaran harus mengalami beban berat untuk mengajar dengan jumlah siswa over capasity. Terus bagaimana bisa meningkatkan kualitas siswa sementara suasana ruangan tidak menunjang dan suasana pembelaran efektif harusnya 15-20 siswa gara proses 'transfer of knowledge' dan 'transfer of value' berjalan beriringan dan muda dicerna oleh siswa.
Guru-guru dengan fasilitas perpustaan untuk peningkatan kapasitas terbatas mana mungkin bisa mendesain pendidikan berkualitas. Guru di daerah-daerah tertinggal memerlukan buku bacaan selain bacaan untuk diajarkan juga wawasan pendidikan yang dapat meningkatkan kualitasnya dalam proses merumuskan pelajaran yang berkualitas maupun rancangan masa depan anak didiknya.
Guru juga masih belum sepenuhnya ikut dalam proses pendidikan peningkatan kapasitas membuat banyak guru belum memiliki kompotensi khusus dalam proses pengajaran. Peningkatan kompotensi masih sulit peroleh guru karena memang persoalan pelatihan guru jika harus mengajak tenaga terampil melatih dari Jakarta selain biayaya mahal juga adakah pembiayaan untuk itu yang secara serius dapat dipergunakan.
Rekayasa Pendidikan di Daerah Tertinggal
Banyaknya probelm pendidikan di daerah tertinggal baik kelas, fasilitas sekolah, buku ajar, kualitas guru, rasio murid dan guru, pemerataan pembangunan sekolah yang belum berjalan maupun problem peningkatan kompotensi guru untuk bisa menyerap hakekat kurikulum berbasis kompotensi 2013 maka diperlukan langkah konkrit pemerintah daerah, pusat dan swasta yang serius membanahi pendidikan agara berjalan beriringan dan terintegrasi. Proses menejemen pengelolaan pendidkan di daerah tertinggal baik soal anggaran, maupun pembangunan sekolah, peningkatan kapasitas guru harus dilaksanakan secara bersama-sama antara pemerintah daerah dan pusat. Pemerintah pusat jika ingin membangun sekolah ada baiknya melakukan riset sederhana agar dapat melihat aspek pemerataan pembangunan maupun potensi guru yang harus disiapkan.
Rasio guru dan murid yang tidak bersesuaian membuat sekolah sulit memajukan kualitasnya sehingga diperlukan distribusi guru-guru dari pusat-pusat perkotaan khususnya atau penerimaan guru lokal yang memang layak mendidik anak-anak sekolah. Selain itu diperlukan langkah konkrit menyelesaikan aspek rasio guru dan murid agar proses pembelajaran tidak sekedar berkeringat namun tidak meninggalkan hasil yakni kualitas siswa.
Diperlukan adanya guru profesional terdidk disetiap kabupaten kota berbasis kecamatan dan desa mulai SD, SMP, SMA maupun SMK agar proses pendidikan di daerah tertinggal terus dapat dievaluasi hasilnya. Guru-guru profesional tersebut selain berfungsi sebagai guru sekolah juga ikut memotivasi guru, membantu kepala sekolah dalam pengelolaan manajemen kepemimpinan agar proses perubahan dan inovasi pendidikan dapat dilaksanakan di daerah tertinggal. Mereka yang dikirim dari pusat yang menjadi tenaga pendidk profesional tersebut harus terus dpantau oleh kemendikbud agar proses pendidikan yang dilaksanakan dapat diketahui perkembangannya. Dengan adanya guru bantu profesional yang dipilih kemendikbud atau dinas provinsi minimal disekolah-sekolah d daerah ada motivasi untuk maju dan berkembang dari inspirasi yang dibawanya.
Perpusatakaan dan gerakan membaca bagi guru dan siswa harus digenjok sehingga ada peningkatan kapasitas dan wawasan. Proses ini hanya bisa berjalan jika tersedia perpustakaan mini dan komunitas membaca di daerah-daerah karena belajar yang diperlukan di daerah tertinggal membutuhkan metode ekstrim dalam peningkatan kualitas. Proses meningkatkan minat baca tersebut harus belajar di daerah-daerah lain bagamana prosesnya, bagaimana memulainya, dan kadang tumbuh dari tradisi sederhana seorang guru, siswa karena ada organisasi yang mendrongnya, ini banyak terjadi di daerah-daerah perkotaan baik di Bantaeng, Makassar maupun Jogja tradisi membaca masih ada karena ada organisasinya yang selalu aktif mempengaruhi selain itu tersedia sarana perpustakaan diberbagai tempat.
Selain itu karena temuan dilapangan menunjukkan sekolah profesi seperti SMK kejuruan yang sangat terbatas maka pemerintah pusat seharusnya memikirkan penguatan dan memperbanyak guru profesi baik teknik, kebibadan, kelautan maupun pertanian kemudian mendirikan sekolah SMK kejuruan serta kewirausahaan agar anak-anak lulusannya dapat berirausaha secara mandiri jika tidak sempat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Penulis: Bahtiar Ali Rambangeng
(Analisis Hasil Riset Pendidikan Daerah Tertinggal Tahun 2012)
Peneliti Kementerian PDT Tahun 2012
