|
|

ANALISA

HUKUM

AGRARIA

SEJARAH

Terkini
|

Awas Sertifikat Tanah Palsu, Cek Lewat SMS

Jumat, 09 Januari 2015

Jakarta--Mantan Kepala BPN RI, Hendarman Supandji menyadari betul praktik pemalsuan sertifikat tanah kian marak, khususnya di kota-kota besar. Untuk mengantisipasinya, bekas Jaksa Agung ini terus memacu perampungan sistem pelayanan pertanahan berbasis IT (Information Technology).

Upayanya mulai membuahkan hasil, kini cek keaslian sertifikat tanah sudah bisa dilakukan lewat pesan SMS (Short Message Service). Caranya mudah, masyarakat tinggal mengetik sms dengan format: Berkas<spasi>nomorberkas/tahun PIN kemudian dikirimkan ke 2409, hanya dengan  biaya sms Rp. 350 saja.

Hampir seluruh operator telekomunikasi di Indonesia digandeng BPN untuk memperluas jangkauan layanan ini, diantaranya PT. Telkomsel Indonesia, Tbk, PT. Telekomunikasi Seluler, PT. Indosat, Tbk, PT. XL Axiata, Tbk, PT. Hutchison 3 Indonesia, PT. Smart Telecom, PT. Smartfren Telecom, Tbk, dan PT. Sampoerna Telekomunikasi Indonesia.

“Pelayanan sertifikat tanah sekarang ini sebenarnya sudah murah, mudah, cepat dan pasti. Himbauan saya, masyarakat uruslah langsung ke BPN, tanpa melewati calo, biar tidak terjadi penipuan,” cetus Hendarman ketika masih menjabat Kepala BPN RI.

Terkait 60 sertifikat palsu yang ditemukan Kantah Jakarta Timur, Hendarman Supandji mengaku sudah melakukan inspeksi dan berkoordinasi. Ia sudah memerintahkan Kantah setempat untuk melaporkan ke Kepolisian agar dibikin terang.

“Sertifikat itu asli tapi palsu. Ini asumsi saya sementara,” tutur Hendarman.

“Asli dikeluarkan oleh BPN. Tapi dari nomornya diketahui bukan dikeluarkan oleh Kantah Jakarta Timur, tetapi dari Maluku. Namun masyarakat kan tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Jadi ini harus dibikin terang,” tambahnya.

Sementara terkait gagasan sidik jari bagi setiap pembuatan sertifikat tanah yang sudah dibelakukan Kantah Jaktim sejak pekan lalu, Hendarman setuju. Bahkan, model ini akan dikaji BPN Pusat untuk dijadikan langkah antisipasi kejahatan sertifikat palsu di seluruh Indonesia.
“Kalau saya tidak setuju, saya takutkan ini diulang kembali,” sambung Hendarman. 

share

Menarik